Selasa, 02 Juni 2009

APA ITU STRES & EMOSI ?


Timbulnya suatu penyakit, khususnya yang disebabkan oleh suasana fikiran banyak memberikan dampak negatif, seperti gangguan-gangguan penyakit fisik dan mental. Gangguan-gangguan pada orang zaman sekarang ini, disebabkan karena kacaunya fikiran dari berbagai macam problema kehidupan yang multidimensi, dan akhirnya seseorang menghadapi kegalauan dalam hidupnya. Istilah kebingungan atau kegelisahan orang sekarang banyak mengenalnya dengan istilah Stres. Apa Stres itu ?” Dan apa Obatnya mujarab untuk keluhan penyakit orang modern ini ?” yang akhirnya sering disertai dengan penyakit lain yang ditimbulkannya. Dan apakah kita harus terus mengkonsumsi obat penenang sebagai solusi terbaik untuk menghindari tingkat stres yang diderita kita ?”. Dengan pendekatan Ilmu dan Study Psikologi kita akan membahas tentang kegalauan mental orang sekarang dengan pendekatan psikologis dan penyakit psikologis yang dapat menimbulkan penyakit fisik sampai tingkat serius.

Hubungan antara pikiran (mind) dan tubuh (body) telah menjadi topik perdebatan sejak dahulu kala. Sudah dipastikan fungsi mental selalu tergantung pada otak. Dalam tulisannya Jeffey, Spencer A. Rathus, Beverly dari St. John’s University & New York University menceritakan tentang pemahaman Stres ini, dari cerita sejarah yang diterangkan pengaruh Filsuf Prancis abad ke-17 Rene Descartes (1596-1650) yang mempengaruhi pemikiran modern dengan keyakinannya tentang dualisme atau keterpisahan antara pikiran dan tubuh. Sekarang, para klinisi dan ilmuwan menyadari bahwa pikiran dan tubuh sangat kuat terjalin tidak seperti yang diperkirakan oleh model dualistik yaitu: bahwa faktor psikologis mempengaruhi dan dipengaruhi oleh fungsi fisik. Dengan kata lain, kesehatan mental dan kesehatan fisik tidak terpisahkan. Pembahasan tentang hubungan antara pikiran dan tubuh diawali dengan mendalami peranan stres dalam fungsi fisik maupun mental. Istilah stres menurut (Jeffey, Spencer A. Rathus, Beverly) menunjukkan adanya tekanan atau kekuatan pada tubuh, dalam psikologi, dikenal dengan istilah stres (stress) dan Sumber Sstres disebut Stresor (stressor). Istilah stres berbeda dengan istilah distres (distress). Istilah distres mengacu pada penderitaan fisik atau mental. Dalam batas tertentu stres sehat untuk diri kita, stres membantu kita untuk tetap aktif dan waspada. Akan tetapi stres yang sangat kuat atau berlangsung lama dapat melebihi kemampuan kita untuk mengatasinya dan menyebabkan distres emosional seperti depresi atau kecemasan, atau keluhan fisik seperti: kelelahan, meningkatnya asam lambung dan sakit kepala, sampai tingkat penyakit serius lainnya. Mengutip pemahaman tentang stres sebagai langkah awal mengenal penyakit ini, kita coba akan menyimak kutipan tentang stres yang telah dicatat oleh ilmuwan Jeffey, Spencer A. Rathus, dan Beverly, sebagai berikut:

MALADAPTIF
Gangguan penyesuaian / Maladaptif ini, adalah gangguan psikologis termasuk kelompok gangguan yang paling ringan. Gangguan penyesuaian (adjustment disorder) merupakan suatu reaksi maladaptif terhadap stresor yang dikenali atau ditandai dengan adanya tanda-tanda distres emosional yang lebih dari biasa. Reaksi maladaptif ini terlihat dari adanya tanda-tanda distres emosional yang lebih dari biasa dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau akademis, atau adanya kondisi distres emosional yang melebihi batas normal. Diagnosis gangguan penyesuaian bisa ditegakkan bila reaksi terhadap stres tersebut tidak memenuhi kriteria diagnostik sindrom klinis yang lain seperti gangguan kecemasan.
Menggolongkan ”gangguan penyesuaian” sebagai sebuah gangguan mental memunculkan beberapa kesulitan, karena tidak mudah mendefinisikan apa yang normal dan tidak normal dalam konsep gangguan penyesuaian. Bila ada krisis dalam pekerjaan, saat dituduh melakukan kejahatan, mengalami kebanjiran, gempa atau badai, bisa dimengerti bila kita mengalami kecemasan atau depresi. Sebaliknya, justru apabila kita tidak bereaksi ”maladaptif”, (misalnya cemas), paling tidak secara temporer, karena terjadinya peristiwa-peristiwa seperti tersebut diatas, dapat menunjukkan ada yang tidak wajar pada diri kita. Namun, bila reaksi emosional kita berlebihan, atau kemampuan kita untuk berfungsi mengalami penurunan, misalnya, menghindari interaksi sosial, sulit bangun tidur, maka kondisi ini bisa didiagnosis sebagai gangguan penyesuaian.

STRES & PENYAKIT
Sumber-sumber psikologis dari stres menurut Jeffey, Spencer A. Rathus, dan Beverly, tidak hanya menurunkan kemampuan kita untuk menyesuaikan diri, tetapi secara tajam juga mempengaruhi kesehatan kita. Bahkan hampir semua penyakit fisik yang dialami orang yang datang memeriksakan diri ke dokter atau disfungsional organ pada keluhan penyakit orang sekarang sering berhubungan dengan stres. Stres meningkatkan risiko terkena berbagai jenis penyakit fisik, dari mulai gangguan pencernaan sampai penyakit jantung, bahkan dari kelelahan berfikir galau atau stres pada seseorang dapat menggangu organ lainnya pula seperti liver, pankreas, dll.

STRES & SISTEM ENDOKRIN
Stres mempunyai efek domino dalam sistem endokrin (endocrine system), yaitu sebuah sistem tubuh, berupa kelenjar yang memproduksi dan melepaskan sekresi yang disebut hormon (hormones), langsung ke saluran darah (kelenjar yang lain, seperti kelenjar ludah yang memproduksi air liur). Sistem endokrin yang terdiri dari kelenjar-kelenjar mendistribusikan hormon keseluruh tubuh. Beberapa kelenjar endokrin terlibat dalam menampilkan respons tubuh terhadap stres. Pertama, hipotalamus, suatu struktur kecil di otak, melepas suatu hormon yang menstimulasi kelenjar pituari didekatnya, untuk menghasilkan adrenocorticotrophic hormone (ACTH). ACTH, selanjutnya, menstimulasi kelenjar adrenal yang berlokasi di atas ginjal. Di bawah pengaruh ACTH, lapisan terluar kelenjar adrenal yang disebut korteks adrenal, melepas sekelompok steroid (misalnya, cortisol dan cortisone). Kortikol steroid ini (disebut juga kortikosteroid) merupakan hormon yang mempunyai sejumlah fungsi yang berbeda-beda dalam tubuh. Hormon ini mendorong perlawanan terhadap stres, membantu perkembangan otot dan menyebabkan hati melepaskan gula, yang merupakan tenaga dalam menghadapi stresor yang mengancam. Mereka juga membantu tubuh mempertahankan diri dari reaksi alergi dan peradangan (inflammation).

Cabang simpatis dari susunan saraf otonom (ANS) menstimulasi lapisan dalam dari kelenjar adrenal, disebut: medulla adrenalis, untuk melepas zat kimia yang disebut catechholamines-epinefrina (adrenalin) dan nonepinefrina (nonadrenalin). Zat ini berfungsi sebagai hormon setelah terlepas di dalam aliran darah Nonepinefrina juga diproduksi di sistem saraf dan berfungsi sebagai suatu neurotransmitter. Gabungan epinefrina dan nonepinefrina menggerakkan tubuh menghadapi stresor dengan meningkatkan kerja jantung dan menstimulasi hati untuk melepaskan persediaan gula, menjadi tenaga yang bisa digunakan untuk melindungi diri kita dalam situasi yang mengancam. Hormon-hormon stres yang diproduksi oleh kelenjar adrenal membantu tubuh menyiapkan diri mengatasi stresor atau ancaman. Apabila stresor sudah terlewati, tubuh kembali pada keadaan normal. Selama terjadi stres yang kronis, tubuh terus-menerus memompa keluar hormon-hormon, yang dapat menyebabkan kerusakan pada seluruh tubuh, termasuk menekan kemampuan dari sistem kekebalan tubuh yang melindungi kita dari berbagai infeksi dan penyakit.

STRES DAN SISTEM KEKEBALAN
Sistem kekebalan (immune system) adalah sistem pertahanan tubuh melawan penyakit. Perlawanan terhadap penyakit ini dilakukan dengan berbagai cara. Tubuh Anda secara konstan melakukan misi untuk mencari dan membunuh mikroba. Berjuta sel darah putih yang disebut leukosit (leukocytes), adalah pasukan sistem kekebalan tubuh dalam peperangan mikroskopis ini. Leukosit secara sistematis menyelubungi dan membunuh patogen (pathogens) seperti bakteri, virus, dan jamur; sel-sel tubuh yang sudah rusak; dan sel-sel kanker.
Leukosit mengenai patogen-patogen yang menyerang ini dari lapisdan permukaan mereka yang disebut antigen (antigens), atau bisa dikatakan sebagai generator antibodi. Beberapa leukosit memproduksi antibodi (antibodies) protein khusus yang melekat pada sel-sel yang dianggap asing, menonaktifkan sel-sel tersebut, memberi tanda bagian mana yang harus dihancurkan.
Limfosit khusus yaitu ”memory lymphocytes” (limfosit adalah suatu jenis leukosit) tidak bertugas menghancurkan sel-sel asing, tetapi berfungsi sebagai cadangan. Limfosit ini dapat berada dalam aliran darah selama bertahun-tahun dan membentuk pasokan untuk memberikan respon kekebalan yang cepat terhadap penyerangan berikutnya.
Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa stres membuat kita rentan terhadap penyakit karena melemahnya sistem kekebalan tubuh, membuat kita rentan terhadap penyakit umum seperti demam dan flu, dan meningkatkan risiko berkembangnya penyakit kronis, termasuk kanker.

Demikian juga berbagai stresor psikologis seperti gejala umum mereka yang merasakan suatu tekanan persoalan, seperti keadaan yang digambarkan pada seorang anak yang akan mengahadapi ujian sekolahnya, biasanya pasti menghadapi suatu beban dalam fikirannya seperti sulit tidur, atau karena stres mengalami peristiwa traumatis seperti gempa bumi, angin badai, atau bencana alam dan teknologi lainnya, ataupun karena kekerasan. Masalah kehidupan seperti perceraian atau tidak memiliki pekerjaan dalam waktu lama juga mempengaruhi sistem kekebalan.
Menurut Jemmott (1983), dukungan sosial tampaknya mengurangi efek negatif stres dalam sistem kekebalan tubuh. Sebagai contoh peneliti menemukan bahwa mahasiswa yang memiliki banyak teman mempunyai daya tahan tubuh yang lebih baik daripada mahasiswa yang mempunyai teman sedikit. Begitu pula Menurut Glaser (1985), siswa-siswa yang kesepian menunjukkan penurunan respon kekebalan yang lebih besar dibandingkan siswa-siswa yang memiliki dukungan sosial yang lebih banyak. Dan penelitian Kiecolt (1987) menerangkan orang yang baru bercerai pada rumah tangganya juga menunjukkan bukti-bukti memiliki respon kekebalan yang menurun, terutama bagi mereka yang lebih terikat dengan mantan pasangannya.

Pemaparan terhadap stres dikaitkan dengan peningkatan dan risiko berkembangnya influenza. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Stone dkk., (1994), orang-orang yang dilaporkan mengalami tingkatan stres harian yang lebih tinggi, seperti tekanan di tempat kerja, menunjukkan antibodi yang lebih rendah dalam darah mereka yang berfungsi melawan virus flu. Pada penelitian lain, Cohen dkk (1998) memaparkan tentang stres kronis yang parah bila berlangsung selama sebulan atau lebih dan terkait dengan pekerjaan yang tidak menentu, seperti: pengangguran, atau masalah pribadi dengan anggota keluarga atau teman, dapat diasosiasikan dengan resiko berkembangnya influenza yang lebih besar. Namun, dukungan sosial dapat meningkatkan ketahanan pada influenza. Para peneliti menemukan bahwa orang yang memiliki tipe hubungan sosial yang lebih beragam-dengan pasangan, anak-anak, keluarga lainnya, teman, kolega, anggota organisasi dan kelompok religi, dan seterusnya-lebih kecil kemungkinannya dibandingkan orang lain untuk terserang influenza. Dalam agama juga telah dianjurkan agar kita penting melakukan hubungan sosial antar sesama atau bagi umat Islam dikenal dengan ”memperbanyak silaturahmi” dan banyak berkawan pada orang-orang yang memiliki pandangan positif.

Peneliti tentang stres, Hans Selye (1976) menciptakan istilah sindrom adaptasi menyeluruh (general adaptation syndrome / GAS) untuk menjelaskan pola respons biologis umum terhadap stres yang berlebihan dan berkepanjangan. Model GAS menyatakan bahwa dalam keadaan stres, tubuh kita seperti jam dengan sistem alarm yang tidak berhenti sampai tenaganya habis.
Gas terdiri tiga tahap: tahap reaksi waspada (alarm reaction), tahap resistensi (resistance stage), tahap kelelahan (exhaustion stage). Persepsi terhadap stresor yang muncul secara tiba-tiba (contohnya sebuah mobil yang menyalip mobil Anda di jalan tol) akan memicu munculnya reaksi waspada. Reaksi ini menggerakkan tubuh untuk mempertahankan diri. Diawali oleh otak dan diatur oleh sistem endokrin dan cabang simpatis dari sistem saraf otonom. Pada tahun 1929, Walter Cannon, seorang ahli fisiologi (Harvard University) menyebut pola respons ini sebagai “reaksi berjuang atau melarikan diri (fight-or-flight reaktion)”. Apabila stresor bersifat persisten, kita akan mencapai tahap resistansi (resistance stage), atau tahap adaptasi pada GAS. Respon-respons endokrin dan sistem simpatis (misalnya, melepaskan hormon-hormon stres) tetap pada tingkat tinggi, tetapi tidak setinggi sewaktu tahap reaksi waspada. Pada tahap ini tubuh membentuk tenaga baru dan memperbaiki kerusakan. Apabila stresor tetap berlanjut atau terjadi stresor baru yang memperburuk keadaan, kita dapat sampai pada tahap kelelahan (exhaustion stage) dari GAS. Meskipun daya tahan terhadap stres antar individu berbeda, semua individu pada akhirnya kelelahan atau kehabisan tenaga. Tahap kelelahan ditandai oleh dominasi cabang parasimpatis dari ANS (susunan saraf otonom). Sebagai akibatnya, detak jantung dan kecepatan nafas menurun. Apabila kondisi sumber stres menetap, kita mengalami apa yang disebut Selve sebagai “penyakit adaptasi” (diseases of adaptation). Penyakit adaptasi ini rentangnya panjang, mulai dari reaksi alergi sampai penyakit jantung, bahkan sampai pada kematian.

STRES DAN PERUBAHAN HIDUP
Cara lain yang dilakukan peneliti untuk menyelidiki hubungan stres dengan penyakit adalah dengan memperhitungkan stres dalam kaitannya dengan perubahan hidup (atau peristiwa hidup). Perubahan hidup menjadi sumber stres bila perubahan hidup tersebut menuntut kita untuk menyesuaikan diri. Perubahan hidup ini dapat berupa peristiwa menyenangkan seperti pernikahan, dan peristiwa yang menyedihkan seperti kematian orang tercinta.
Meskipun perubahan hidup yang menyenangkan (positif) maupun tidak menyenangkan (negatif) dapat menyebabkan stres, perubahan hidup yang positif mengakibatkan gangguan yang lebih ringan daripada perubahan hidup yang negatif. Dengan kata lain, stres karena pernikahan lebih ringan daripada stres yang disebabkan oleh perceraian atau perpisahan. Perlu dicatat pula bahwa tidak mengalami peristiwa apa pun (misalnya, tidak ada perubahan hidup) juga dapat menimbulkan stres dan berhubungan kuat dengan risiko masalah kesehatan fisik.


Faktor-faktor Psikologis yang mengurangi Stres
Stres merupakan fakta hidup, tapi cara kita menghadapi stres menentukan kemampuan kita untuk mengatasi stres tersebut. Individu bereaksi secara berbeda terhadap stres tergantung berbagai faktor psikologis seperti: bagaimana individu memaknai peristiwa yang menimbulkan stres tersebut. Contohnya suatu peristiwa hidup seperti kehamilan, merupakan stresor negatif atau positif tergantung pada seberapa besar hasrat pasangan untuk memiliki anak dan kesiapan mereka merawat seorang anak. Dapat dikatakan, stres karena kehamilan ditentukan oleh seberapa besar nilai seorang anak bagi pasangan dan persepsi mereka terhadap kemampuan mereka membesarkan anak. Selanjutnya perlu kita ketahui faktor-faktor psikologis yang dapat mengurangi atau menahan efek dari stres, sebagai berikut:

Ketahanan Psikologis
Ketahanan psikologis dapat membantu dalam mengelola stres yang dialami. Penelitian tentang ketahanan psikologis terutama adalah kontribusi dari Suzane Kobasa (1979) dan koleganya yang menyelidiki para eksekutif bisnis yang memiliki ketahanan terhadap penyakit, walaupun mereka mengalami beban stres yang berat. Tiga perangai utama yang membedakan ketahanan psikologis para eksekutif tersebut yaitu:

1. Komitmen yang tinggi. Para eksekutif tangguh ini yakin sekali pada apa yang mereka lakukan dan melibatkan diri sepenuhnya terhadap pekerjaan dan situasi kerja. Mereka tidak pernah mencoba untuk menjauhkan diri dari situasi dan pekerjaan mereka.
2. Tantangan yang tinggi. Para eksekutif yang tangguh percaya perubahan merupakan suatu hal yang normal, mereka tidak terpaku pada kondisi stabil saja, tetapi tertantang untuk mengatasi atau melakukan perubahan.
3. Pengendalian yang kuat terhadap hidup. Para eksekutif yang tangguh percaya dan bertindak dengan keyakinan bahwa diri mereka sendirilah yang menentukan reward dan hukuman (ganjaran positif dan negatif) yang mereka terima dalam hidup ini.

Optimisme
Penelitian lain juga menunjukkan adanya hubungan antara optimisme dengan kesehatan yang lebih baik. Misalnya, pasien yang mempunyai pikiran lebih pesimis selama masa sakitnya akan lebih menderita dan mengalami distres. Pikiran-pikiran pesimistis itu misalnya: “Saya tidak dapat melakukan apa-apa lagi,” Tidak ada orang yang peduli pada penderitaanku,” dan “Tidak adil kalau saya hidup seperti ini.”
Dalam suatu studi pada pasien sakit jantung, sikap optimis menunjukkan tingkat depresi yang lebih rendah ketika dievaluasi setahun kemudian dan pasien-pasien lain yang mengalami prosedur operasi bypass arteri koroner yang mempunyai sikap lebih optimis tentang operasi tersebut menunjukkan hasil yang lebih baik (adanya komplikasi yang lebih sedikit apabila harus menjalani perawatan di rumah sakit atau operasi kembali) daripada pasien yang lebih pesimistis.

Dukungan Sosial
Semakin luasnya jaringan kontak sosial yang dimiliki seseorang berhubungan dengan besarnya resistansi/ketahanan terhadap berkembangnya infeksi ketika seseorang terkena virus flu biasa. Para penyelidik percaya bahwa memiliki kontak sosial yang luas membantu bahwa orang-orang dengan tingkat dukungan sosial yang lebih tinggi kelihatannya akan hidup lebih lama. Dalam studi terhadap orang Swedia, para peneliti mengobservasi para laki-laki separuh baya yang mengalami stres berat yang disebabkan karena kesulitan keuangan atau masalah serius dengan anggota keluarga. Ditemukan bahwa laki-laki yang stres berat dan tidak mendapat dukungan sosial kemungkinan terancam kematian 3 kali lipat lebih besar dalam jangka waktu 7 tahun daripada orang-orang yang mengalami stres rendah.

PSIKOSOMATIS
Gangguan fisik yang diyakini disebabkan atau dipengaruhi oleh faktor psikologis pada masa lalu disebut psikosomatis (psychosomatic) atau psikofisiologis. Istilah psikosomatis berasal dari bahasa Yunani psyche, yang artinya “jiwa” atau “intelek,” dan “soma” yang berarti “tubuh”. Gangguan fisik yang menyangkut unsur psikologis bentuknya mulai dari asma dan sakit kepala sampai sakit jantung.

Tukak lambung (maag) juga merupakan penyakit disebabkan gangguan psikosomatis, tetapi telah dievaluasi kembali dalam penelitian yang mendapatkan bahwa suatu bakteri, H. Pylori, dan bukan stres atau diet, penyebab sebagian besar penyakit maag. Peneliti-peneliti mencurigai bahwa maag terjadi karena bakteri merusak lapisan pelindung perut atau usus. Pengobatan dengan antibiotik dapat membantu menyembuhkan maag dengan cara menyerang bakteri secara langsung, belum diketahui mengapa sebagian orang yang memiliki bakteri didalam tubuhnya ada yang mengalami maag dan ada yang tidak. Keganasan jenis H pylori mungkin berperan dalam menentukan apakah orang yang terinfeksi H. Pylori tersebut kemudian terkena maag. Selain itu ada kemungkinan pula bahwa stres psikologis berperan juga.
Demikian pula sakit kepala yang terjadi tidak bersamaan dengan gejala-gejala yang lain, maka sakit kepala ini dapat dikelompokkan sebagai gangguan fisik yang berhubungan dengan stres, yang dapat menyebabkan kontraksi kuat terhadap kulit kepala, muka, leher dan bahu sehingga muncul sakit kepala yang periodik dan kronis. Sakit kepala seperti itu secara beransur-ansur berkembang dan biasanya ditandai dengan rasa sakit yang terus-menerus di kedua sisi kepala, disertai dengan tekanan yang menghimpit.

Sebuah survei di daerah Baltimore menunjukkan bahwa 38% responden mengeluh kadang-kadang mengalami sakit kepala karena tegang. Survei ini menunjukkan bahwa wanita akan mengalami tingkat sakit kepala16% lebih tinggi dari pada laki-laki. Kebanyakan sakit kepala yang lain, termasuk sakit kepala sebelah (migren) yang parah, diyakini melibatkan perubahan aliran darah ke kepala.

Migren diderita oleh lebih dari 28 juta orang Amerika. Biasanya migren berlangsung selama beberapa jam atau beberapa hari. Sakit ini dapat muncul setiap hari atau sering kali setiap bulannya. Sakit ini ditandai dengan rasa yang menusuk disebelah sisi kepala atau di belakang mata. Sakit ini dapat menjadi begitu intensnya sehingga tidak tertahankan. Upaya mengatasi sakit migren yang parah malah dapat menimbulkan rendahnya kualitas hidup dan menimbulkan gangguan pada tidur, dan proses berpikir (Lipton dkk., 2000).

Menurut Olesen (1994). Ada dua tipe utama migren yaitu tanpa aura (disebut migren biasa) dan migren dengan aura (disebut dengan migren klasik). Aura adalah sekelompok tanda peringatan sebelum terjadinya serangan migrein. Aura dicirikan dengan distorsi persepsi seperti kilatan cahaya, gangguan pandangan, atau pandangan gelap gulita. Kira-kira 1 sampai 5 penderita migren mengalami aura ini. Ada dan tidaknya aura ini, kedua migren ini dapat dikatakan sama.

Stres dan Bisul
Radang dinding lambung adalah lubang dalam lapisan perut (duodenum) yang ditimbulkan oleh pengeluaran terlalu banyak asam hidroklorik. Pada proses pencernaan, asam hidroklorik berinteraksi dengan macam-macam enzim untuk melumatkan makanan ke dalam komponen- komponen yang dimanfaatkan oleh tubuh. Bila asm hidroklorik dikeluarkan dalam jumlah yang terlalu banyak, asam itu pelan-pelan mengikis lapisan getah yang melindungi dinding perut, dan menimbulkan lubang-lubang kecil. Sejumlah faktor dapat menyebabkan peningkatan keluarnya asam hidroklorik, dan stres kejiwaan tampaknya merupakan salah satunya.
Stres yang tak terkontrol benar-benar mendorong ke arah timbulnya bisul. Stres merupakan faktor yang menjurus ke bisul – terutama untuk orang-orang yang secara biologis cenderung untuk mengeluarkan asam hidroklorik secara besar-besaran. Pengawas perjalanan kapal udara, yang bekerja di bawah tekanan yang meningkat dan harus memberikan keputusan segera yang mempengaruhi keselamatan beratus-ratus orang, mempunyai penderitaan bisul (radang) dinding lambung yang paling tinggi dalam segala profesi dan kemungkinan lebih besar untuk menderita tekanan darah tinggi dan sakit jantung ketimbang orang biasa.

Stres dan Karakter
Satu bidang riset telah mengenali suatu pola perilaku disebut “tipe A,” yang tampaknya ciri-ciri orang yang menderita serangan jantung. Orang yang bertipe A digambarkan sebagai sangat suka bersaing dan berorientasi kepada prestasi; mereka memiliki perasaan pentingnya waktu, mereka sulit bersantai, dan menjadi tak sabar dan marah bila mendapati penundaan atau mendapati orang-orang yang berkompeten. Asumsinya adalah bahwa orang-orang semacam itu, walau tampak di luar percaya pada dirinya, cenderung tetap berperasaan ragu-ragu pada dirinya; mereka mendorong diri mereka untuk mencapai sesuatu yang makin lama makin besar dalam jangka waktu makin lama makin kurang. Tekanan untuk mencapai, ditambah dengan perasaan permusuhan yang tersembunyi, dipandang sebagai ciri-ciri yang paling mungkinuntuk tumbuhnya penyakit jantung. Orang-orang yang bertipe B digambarkan sebagai orang-orang yang tidak menonjolkan ciri-ciri khas yang tertera bagi orang yang bertipe A. Orang-orang yang bertipe B dapat santai tanpa merasa bersalah dan bekerja tanpa menjadi bernafsu; mereka tidak memiliki perasaan pentingnya waktu dengan akibat munculnya ketidaksabaran. Marah dan perasaan benci sukar dibangkitkan dengan gampang pada orang-orang sedemikian, dan mereka menunjukkan kurang perlu untuk mengetengahkan dan membicarakan prestasi.
Beberapa studi menunjukkan orang-orang yang bertipe A kemungkinan lebih besar menderita serangan jantung daripada orang-orang bertipe B. Bagaimana tingkah laku orang bertipe A mempengaruhi sistem cardiovascular masih belum dimengerti dengan jelas. Pengaruh fisiologis dari stres semacam ini yang dialami oleh orang-orang bertipe A mungkin menyangkut kolesterol darah yang terus meningkat, kecenderungan yang meningkat ke arah pembentukan pembekuan darah, menambah tekanan darah, atau menambah pengeluarannya hormon norepinefrin, yang dapat menimbulkan keabnormalan pada detak jantung. Suatu tinjauan riset menyimpulkan tingkah laku orang bertipe A memberi resiko yang utama bagi penyakit jantung seperti halnya merokok, tekanan darah tinggi, tingkat kolesterol yang tinggi.

EMOSI
Emosi, istilah yang makna tepatnya masih membingungkan baik para ahli psikologi maupun ahli filsafat selama lebih dari satu abad. Dalam makna paling harfiah, “Oxford English Dictionary” mendefinisikan emosi sebagai “setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu; setiap keadaan mental yang hebat atau meluap luap”.
Daniel Goleman menganggap emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Ada ratusan emosi, bersama dengan campuran, variasi, mutasi dan nuansanya. Sungguh, terdapat lebih banyak penghalusan emosi daripada kata yang kita miliki untuk itu. Hingga kini, para peneliti terus berdebat tentang emosi mana benar benar yang dapat dianggap sebagai emosi primer-biru, merah dan kuningnya setiap campuran perasaan-atau bahkan mempertanyakan apakah memang ada emosi primer semacam itu.
Memahami Emosi itu sendiri, dengan pendekatan keadaan psikololgis seseorang pada umumnya digambarkan pada suatu keadaan seperti misalnya rasa takut atau rasa marah, kita akan menyadari adanya sejumlah perubahan badani – detak jantung dan nafas yang cepat, tenggorokan dan mulut yang kering, ketegangan otot yang meningkat, keringat yang mengucur, kaki dan tangan yang gemetar, ”perasaan tertekan” pada perut.
Gejala rasa takut juga pernah dilaporkan oleh para penerbang pada zaman perang Dunia II dan menggambarkan kompleksitas perubahan badaniah yang terjadi dalam keadaan emosi. Sebagian besar perubahan fisiologis yang terjadi keterbangkitan emosionsl disebabkan oleh pengaktifan bagian simpatis sistem saraf otonom pada saat mempersiapkan tubuh untuk melakukan tindakan darurat. Sistem saraf simpatis bertanggung jawab atas perubahan-perubahan berikut ini :

- Tekanan darah dan detak jantung yang meningkat.
- Pernapasan yang semakin cepat.
- Anak mata yang membesar.
- Keringat yang meningkat sementara sekresi air liur dan lendir menurun.
- Kadar gula darah yang meningkat untuk menyediakan energi yang lebih banyak.
- Darah yang lebih cepat membeku ketika terjadi luka.
- Gerak sistem gastrointestinal yang menurun; darah dialihkan dari perut dan usus ke otak dan otot rangka.
- Bulu badan yang menegang, menyebabkan ”penegakan bulu roma.”

Bila emosi Sistem simpatis mendorong organisme untuk mengeluarkan energi dan menyebabkan menurunnya sistem parasimpatis (sistem yang menghemat energi) yang mengambil alih dan memulihkan organisme pada keadaann normal.
Jenis peningkatan keterbangkitan fisiologis merupakan karateristik keadaan emosional ketika organisme harus mempersiapkan tindakan, seperti: berkelahi atau melarikan diri. Beberapa respons yang sama juga muncul ketika terjadi kegembiraan yang meluap atau keterbangkitan seksual.


Intensitas Emosional
Kita cukup paham pada keadaan emosi itu sendiri seperti: marah, takut, atau ber gembira. Respons fisiologis dalam ketiga kondisi itu sama. Rasa takut membuat detak jantung kita lebih cepat dan napas kita lebih kencang, demikian pula dengan rasa marah atau rupa orang yang kita cintai. Wajah kita bias memerah atau memucat ketika kita marah (tergantung individunya), dan respons yang sama terjadi bila kita merasa takut. Meskipun terdapat ukuran yang cukup akurat untuk menunjukkan kapan seorang terbangkitkan secara emosional, namun sejauh ini penelitian belum berhasil mengungkapkan pola fisiologis yang unik untuk emosi yang berbeda. Ini merupakan masalah penting. Kendati telah dilakukan penelitian panjang lebar tentang subjek, para peneliti belum mampu mengidentifikasi pola keterbangkitan fisiologis yang berbeda dari satuemosi tertentu ke emosi lain.

Ekspresi Emosional
Istilah “muak”, dalam pengertian sederhana, berarti sesuatu yang tidak menyenangkan pada cita rasa. Tetapi bila rasa muak juga menimbulkan kejengkelan, biasanya hal itu disertai kerut muka, dan seringkali diikuti gerakan seolah-olah menjauhkan diri atau menghindar dari objek yang tidak menyenangkan. Rasa muak yang ekstrim diekspresikan dengan gerakan di sekitar mulut yang mirip dengan gerakan awal orang yang akan muntah. Mulut terbuka lebar, dengan bibir atas ditarik kuat. Pengatupan sebagian kelopak mata, atau pemalingan mata atau seluruh tubuh, juga merupakan ekspresi rasa hina. Tampaknya tindakan ini menyatakan bahwa orang yang dianggap hina tersebut tidak pantas untuk dilihat atau tidak enak dipandang. Rupanya meludah merupakan tanda yang hamper universal untuk menyatakan rasa jijik atau rasa muak, dan meludah jelas merupakan penolakan terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan dari mulut.
Beberapa pakar psikologi, yang terkesan pada sifat universal dan bawaan ekspresi wajah tertentu, yakin bahwa ekspresi dalam menentukan pengalaman emosi subjektif kita mempunyai makna yang sama penting dengan sensasi keterbangkitan internal bila secara otomatis kita bereaksi terhadap suatu situasi, pesan yang dikirim otot wajah ke otak memberitahu kita tentang emosi dasar yang kita alami, sedangkan sensasi visceral (yang terjadi lebih lambat) memberikan isyarat tentang intensitas emosi itu. Gagasan ini mengandung arti bahwa bila Anda tersenyum dan tetap tersenyum sampai kira-kira setengah menit, Anda akan mulai merasa lebih bahagia; bila Anda cemberut, Anda akan merasa tegang dan marah. ademati.org


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar