Menurut kamus popular, pengertian emosi adalah perasaan: kemampuan jiwa untuk merasakan gejala sesuatu yang disebabkan oleh rangsangan dari luar seperti : rasa sedih, susah, marah, kesusilaan. Berdasarkan pengertian tersebut, tarnyata bahwa pengertian emosi sangat luas. Umumnya, kita sellau mengidentikkan emosi dengan marah. Emosi meliputi rasa sedih, marah, gelisah, bahkan sampai kepada masalah kesusilaan.
Orang yang pemarah merupakan orang yang emosional. Demikian pula dengan orang yang mudah tersentuh dan menangis juga merupakan orang yang emosional. Begitu luas pengertian emosi ini sehingga setiap ekspresi kehidupan yang dilakukan oleh setiap manusia merupakan wujud dari emosinya.
Kita sering mengalami keadaan, sedih, marah, susah, bingung, sentimental, romantis, dan sebagainya. Pelampiasan emosi itu dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang dilakukan dengan marah-marah, menangis, memukul, berteriak, melankolis dan sebagainya. Setiap orang memiliki cara tersendiri dalam menumpahkan emosinya. Kalau kita sedang terkena emosi, apa yang harus dilakukan.
Pertama. Kenali perasaan kita. Marah, sedih, susah, kecewa, dan sebagainya merupakan hal yang selalu kita alami sepanjang hari. Keadaan itu selalu silih berganti menghinggapi perasaan kita. Akan lebih mudah bagi kita untuk mengendalikan semua perasaan itu apabila kita sadar dengan keadaan kita. Banyak orang yang emosi dan menumpahkannya dalam bentuk marah-marah. Demikian pula dengan orang yang sedang bersedih, kita lebih banyak menumpahkan perasaan itu dengan menangis. Saat anda menangis atau ketika anda sedang marah-marah cobalah untuk segera menyadari akan hal itu. Terlalu lama dengan kemarahan atau dalam kesedihan tak baik untuk perkembangan jiwa kita. Hal yang paling sulit dilakukan adalah berhenti marah. Namun bila kita sadar akan hal itu semua akan terasa lebih mudah.
Kedua. Cari penyebabnya. Emosi bisa terjadi karena berbagai hal. ada yang bersifat personal seperti watak dan sifat kita yang memang emosional. Tapi ada juga yang disebabkan faktor dari luar. Kalah dalam sebuah pertandingan. Cita-cita yang tak terwujud, impian yang tak kesampaian. Atau hasrat yang tak terpenuhi dapat menjadi penyebab rasa emosi. Karena hal-hal kecil tak jarang bisa membuat orang bertengkar. Perdebatan yang saling menuduh, menghujat, atau menghina juga bisa menjadi penyebabnya. Bahkan rasa cinta yang tak berbalas dapat menjadikan seseorang emosional. Karena itu, sangat baik bagi kita untuk selalu mengenali apa penyebab rasa emosi itu. Bagi orang yang mudah mengenali penyebab emosinya, akan lebih mudah untuk mengatasi rasa emosi itu.
Ketiga. Mencari cara untuk mengatasi emosi. Perasaan emosi harus kendalikan. Emosi yang tak terkendali akan memberikan pengaruh tidak hanya bagi diri kita sendiri, tetapi juga bisa melibatkan lingkungan kita. Bila rasa marah yang tak terkendali menjangkiti kita, seringkali kita mengakibatkan kerusakan, kesulitan, dan efek yang besar bagi diri dan lingkungan kita. Ketika marah atau sedih, atau kecewa, kita melampiaskannya dengan berbagai cara. Tindakan yang diambil pun seringkali tidak disadari. Apa saja yang ada dihadapan kita, bisa dijadikan sebagai alat untuk menumpahkan rasa emosi. Apalagi kalau sedang marah. Siapa saja yang ada di depan kita sering menjadi sasaran. Hal ini mengakibatkan pelampiasan emosi melibatkan begitu banyak orang. icai.blogdetik.com
Selasa, 02 Juni 2009
Mengelola Kemarahan
Oleh
Delima Juni Hastuti
Ilmu Komunikasi PR
Komunikasi Antar Pribadi
Mengelola Kemarahan
Emosi merupakan bagian dari keadaan psikologi seseorang, sehingga dalam mengekpresikan emosi memerlukan ketrampilan. Emosi sendiri merupakan bagian dari kehidupan anatarpribadi seseorang dengan orang lain, sehingga pada akhirnya setiap individu harus memutuskan apakan akan menunjukkan emosi atau sebaliknya justru menyembunyikan emosi. Apabila kita memutuskan untuk mengekspresikan emosi kita atau perasaan kita maka kita harus menganalisa dan menjabarkan perasaan seperti apa, emosi yang seperti apa yng kita rasakan dan kita ingin orang lain tahu.
Dalam memahmi perasaan maupun emosi yang kita rasakan kita harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada diri kita agar kita dapat memahami perasaan yang kita rasakan.
- “What am I feeling, and what made feel this way?” Memahami apa yang kita rasakan seobjektif mungkin sehingga kita dapat mudah mengenali kondisi maupun lingkungan seperti apa yang menyebabkan kita dapat memiliki perasaan seperti itu. Misalnya saja, ketika kita tiba-tiba merasa marah terhadap seseorang tanpa alasan yang jelas, yang kita tahu kita tidak menyukai orang tersebut. Maka, kita harus mencari tau sebab-sebab apa yang menyebabkan kita tidak meyukai orang tersebut.
- “What exactly do I want to communicate?”
Dalam komunikasi antarpribadi kita harus memperhatikan beebrapa hal yang dapat membangun perasaan kita, bagaimana kita memahami sebuah perasaan yang kita rasakan melalui pemahaman situasi yang kita rasakan sehingga mempengaruhi perasaan kita.
- Be as spesific as possible. Yang sering terjadi adalaah beberapa emosi atau luapan perasaan merupkan campuran dari emosi lainnya, misalnya ketika merasa marah atau kesal, maka emosi yang kita rasakan tidak hanya kesal, namun juga merasa tidak sabar dan mendadak tidak menyukai orang lain, bagi sebagian orang hal-hal seperti diatas dapat saja terjadi. Atau ketika kita sedang merasa sangat gembira, maka perilaku kita pun ikut terpengaruh, sehingga emosi yang kita tunjukan kepada orang lain terlihat menyenangkan.
- Describe the reasons you’re feeling as you are. Ketika kita merasakan perasaan yang membuat kita resah, senang atau bahkan marah. Kita harus berusaha menemukan alasan yang tepat, mengapa kita merasakaan hal itu. Dengan begitu akan mudah bagi kita untuk menemukan jalan keluar bagi masalah itu. Misalnya, “Saya merasa sedih karena anjing peliharaan saya mati pagi ini,” peryataan diatas menunjukkan bahwa ‘dia’ merasa sedih karena hewan peliharaannya mati pagi tadi.
- Address mixed feeings. Mencoba untuk memberikan pencerahan kepada diri sendiri tentang perasaan yang berbeda-beda yang kita rasakan. Misalnya, “saya merasa marah dan kesal namun saya juga merasa bersalah tergadap apa yang telah saya lakukan,” dengan begitu kita dapat memahami apa yang diri kita inginkan sehingga kita dapat mengontrol emosi kita.
- In expressing felings-inwardly or aoutwardly—try to anchor your emotions in the present. Mengekspresikan perasan yang kita rasakan terhadap diri kita sendiri dengan mencocokkan permasalahan diri yang sedang kita hadapi. Misalnya kita menerima dan mengekspresikan emosi dalam kita kita, “Saya merasa bodoh karena tidak bisa menghasilkan tulisan yang bagus hari ini,” pernyataan diatas merupakan ekpresi untuk menenangkan diri sendiri tentang emosi yang dirasakan.
- Own your feelings; take personal responsibility for your feelings. Berdasarkan kalimat-kalimat atau pernyataan-pernyataan “You make me angry”, “You make feel like a loser.” “You make me feel stupid.” Dari pernyatan tersebut, kita menyalahkan orang lain karena apa yang kita rasakan.
- Ask for what you want.
Mengatasi kemarahan
Kemarahan merupakan emosi yang bisa menciptakan masalah jika tidak ditata secara baik. Namun kemarahan juga bukan merupakan sesuatu yang selalu buruk. Kematahan membantu kita untuk melindungi diri kita, mendorong kita untuk berselisih atau sebaliknya. Lemarahan tidak selalu membangun sesuatu yang baik, karena beberapa waktu kemarahan justru membimbing kita untuk mencapai suatu tujuan yang bukanlah objektif melainkan suatu obsesi.
Mengolah kemarahan : SCREAM Before You Scream.
Yang perlu disadari dalam mengolah atau mengatur emosi kemarahan yang kita rasakan dibutuhkan beberapa hal berikut :
1. Self. Seberapa penting emosi yang kita rasakan terhadap diri sendiri sehingga membuat kita untuk dapat memutuskan seperti apa perasaan yang kita inginkan. Apakah apa yang kita rasakan merupakan sesuatu yang berharga atau tidak sehingga kita harus memahami tindakan seperti apa yang akan kita ambil ketika emosi itu muncul.
2. Context. Menentukan tempat dan waktu yang tepat untuk mengekspresikan rasa marah yang kita rasakan sehngga kita dapat memahami lingkungan sekitar. “Apakah tepat rasanya jika kita menumpahkan amarah kita disini?” Pernyatan tersebut membantu kita untuk dapat bersikap kondusif sehungga apa yang kita lakukan merupakan sesuatu yang benar, meskipun pada dasarnya kemarahan bukanlah hal yang harus dilakukan.
3. Receiver. Seseorang yang menjadi tempat kita untuk mengekspresikan emosi kita. Misalnya, kita menunjukkan emosi dedecewaan kita kepada sahabta kita karena merasa kesal terhadapa sikap pimpinan yang membuat kita kesal.
4. Effect. Akibat seperi apa yang dapat mucnul jika kita menunjukkan ekpresi kemarahan kita. Apakah kita menunjukkan emosi kita intuk menyakiti orang lain? Bagaimana kita mempertimbangkan sikap kita terhadap kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi apabila kita mengutarakan emosi yang kita rasakan.
5. Aftermath (long-range). Apa yang akan terjadi akibat ekspresi kemarahan yang kita tunjukan, seberapa besar pengaruhnya terhadap hubungan kita dengan orang lain, dengan rekan-rekan satu kantor dan sebagainya.
6. Messages. Bagaimana sebuah ekpresi yang telah tunjukan kepada orang lain tentang kemarahan kita dapat memberikan akibat dan apakah pesan yang kita sampaikan berguna. Tentang apa yang kita rasakan, ketidakpuasan kerja misalnya. Hal-hal ini membawa kita kepada anger communication.
Anger Communication
Anger communication bukanlah cara untuk menunjukkan kemarahan kita, melainkan bagaimana menunjukkan emosi kita secara tenang dan terkendali.
1. Get ready to communicate calmy and logically.
2. Examine your communication choices.
3. Consider the advantages of delaying the expression of anger.
4. Remember that different cultures gave different display rules.
5. App;y rhe relevant skills of interpersonal communication.
6. Recall the irreversibility of communication.
Dengan menunjukkan anger communication, kita mampu mempertimbangkan hal-hal yang mungkin saja terjadi akibat emosi yang kita tunjuakn kepada orang lain. Akibat dari hal-hal itu bisa berupa sesuatu yang baik dan sebaliknya. Emosi yang kita tunjukan dapat mengandung dua makna yaitu positif dan negatif, karena orang-orang disekitar kita mungkin ada yang mau menerima kekecewaan kita namun juga ada yang merasa bahwa yang kita rasakan merupakan hal yang tidak masuk akal.
Dengan adanya kemampuan untuk mengolah emosi dalam diti kita, maka kita dapat berusaha untuk meminimalisir effect negatif yang bisa saja timbul.
Griefstricken
Dalam komunikasi antar pribadi ada hal-hal yang sulit dilakukan seperti memahami ekspresi orang lain, serta memahami emosi yang sedang terjadi. Hal-hal seperti ini dapat menumbuhkan ketidaksamaan persepsi sehingga kesulitan-kesulitan berkomunikasi menjadi sulit. Dengan memajami keadan emosi seseorang kita dapat menentukan cara yang efektif untuk berkomunikasi.
Seseorang yang memiliki perasaan berduka biasanya karena kematian atau kesedihan, kehilangan pekerjaan atau hubungan dengan orang lain dan sebagainya.
Apabila kita mendengar berita duka, atau luapan emosi dari seseorang yang menunjukkan kedukaan maka kita harus menunjukkan ekspresi simpati sebagai bentuk perhatian. Ada beberapa cara agar komunikasi kita dengan orang yang sedang berduka dapat berjalan dengan efektif.
- Merespon emosi yang ditunjukan seseorang dengan menyatakan apa yang mereka rasakan. Seperti, membiarkan orang tersebut merasakan kesedihannya.
- Memberikan keleluasaan bagi orang tersebut untuk merasakan kedukaannya sehingga dia merasa tenang dan merasa diperhatikan karena kita memahami perasaannya saat itu.
- Berusaha menunjukkan sesuatu yang lebih baik akibta kejadian tersebut. Dengan begitu kita mampu mengangkat semangat orang tesebut, seperti mengatakan “Ini lebih baik daripada...”
- Membiarkan orang yang sedang berduka mengekspresikan perasaan dan membiarkannya meluapkan emosinya. Namun, jangan memaksa orang tersebut untuk mebagi kesedihannya atau pengalaman yang tak ingin dia bagi. Hanya membiarkan dia menceritakan tanpa kita memintanya.
- Membiarkan orang itu tau bahwa kita peduli dan bersedia untuk dijadikan tempat bicara, seperti mengatakan “Jika ada yang perlu saya lakukan, saya akan membantu,”
Mary and Tom
Apa yang dirasakan oleh Mary and Tom adalah suatu keadaan yang tidka saling memahami selain adanya dua perbedaan yang sangat jelas antara kedua individu. Sikap Tom yang cenderung extrovert menyebabkan tekanan bagi Mary yang introvert, karena keduanya sama-sama tidak mengolah emosi mereka sehingga menyebabkan adanya pertentangan dan perbedaan persepsi diantara keduanya karena sama-sama mengintrepertasikan berbeda.
Tom berpikiran bahwa Mary enggan membagi kehidupannya padahal Mary sulit mengekspresikannya, hal tersebut dikarenakan keduanya tidak memiliki ketarmpilan untuk mengekspresikan emosi.
Skill of expressing emotions
- Memahami perasaan kita dan kenapa kita merasakan hal tersebut. Mary dan Tom seharusnya saling mengintropeksi diri sendiri mengenai apa yang mereka rasakan, mengapa mereka merasakan hal tersebut, sehingga keduanya dapat menyamakan persepsi. Seperti apakah ketidakpuasan dalam rumah tangga mereka yang tidak mereka bicarakan.
- Mencoba untuk memfokuskan pada emosi atau perasaan yang kita rasakan sehingga kita yakin untuk berekspresi seperti apa. Seperti memahami bagaimana akibat dari pesan yang kita sampaikan apabila emosi kita pecah. Pada Tom, dia tidak menyadari sikapnya yang terbuka dalam meluapkan emosinya justru membuat istrinya tertekan dan bukan sebaliknya yaitu membuka diri kepada Tom.
- Mengidentifikasi pilihan untuk berkomunikasi dan mengevaluasinya. Apakah cara berkomunikasi ini baik atau tidak dan bagaimana akibatnya.
- Mencoba untuk memikirkan alasan mengapa memiliki perasaan seperti ini, sehingga dapat memahami penyelesaian yang tepat dan bagimana mengkomunikasikannya sehianga permasalahan tersebut tidak menjadi bumerang. gudangtugasgembul.blogspot.com
Delima Juni Hastuti
Ilmu Komunikasi PR
Komunikasi Antar Pribadi
Mengelola Kemarahan
Emosi merupakan bagian dari keadaan psikologi seseorang, sehingga dalam mengekpresikan emosi memerlukan ketrampilan. Emosi sendiri merupakan bagian dari kehidupan anatarpribadi seseorang dengan orang lain, sehingga pada akhirnya setiap individu harus memutuskan apakan akan menunjukkan emosi atau sebaliknya justru menyembunyikan emosi. Apabila kita memutuskan untuk mengekspresikan emosi kita atau perasaan kita maka kita harus menganalisa dan menjabarkan perasaan seperti apa, emosi yang seperti apa yng kita rasakan dan kita ingin orang lain tahu.
Dalam memahmi perasaan maupun emosi yang kita rasakan kita harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada diri kita agar kita dapat memahami perasaan yang kita rasakan.
- “What am I feeling, and what made feel this way?” Memahami apa yang kita rasakan seobjektif mungkin sehingga kita dapat mudah mengenali kondisi maupun lingkungan seperti apa yang menyebabkan kita dapat memiliki perasaan seperti itu. Misalnya saja, ketika kita tiba-tiba merasa marah terhadap seseorang tanpa alasan yang jelas, yang kita tahu kita tidak menyukai orang tersebut. Maka, kita harus mencari tau sebab-sebab apa yang menyebabkan kita tidak meyukai orang tersebut.
- “What exactly do I want to communicate?”
Dalam komunikasi antarpribadi kita harus memperhatikan beebrapa hal yang dapat membangun perasaan kita, bagaimana kita memahami sebuah perasaan yang kita rasakan melalui pemahaman situasi yang kita rasakan sehingga mempengaruhi perasaan kita.
- Be as spesific as possible. Yang sering terjadi adalaah beberapa emosi atau luapan perasaan merupkan campuran dari emosi lainnya, misalnya ketika merasa marah atau kesal, maka emosi yang kita rasakan tidak hanya kesal, namun juga merasa tidak sabar dan mendadak tidak menyukai orang lain, bagi sebagian orang hal-hal seperti diatas dapat saja terjadi. Atau ketika kita sedang merasa sangat gembira, maka perilaku kita pun ikut terpengaruh, sehingga emosi yang kita tunjukan kepada orang lain terlihat menyenangkan.
- Describe the reasons you’re feeling as you are. Ketika kita merasakan perasaan yang membuat kita resah, senang atau bahkan marah. Kita harus berusaha menemukan alasan yang tepat, mengapa kita merasakaan hal itu. Dengan begitu akan mudah bagi kita untuk menemukan jalan keluar bagi masalah itu. Misalnya, “Saya merasa sedih karena anjing peliharaan saya mati pagi ini,” peryataan diatas menunjukkan bahwa ‘dia’ merasa sedih karena hewan peliharaannya mati pagi tadi.
- Address mixed feeings. Mencoba untuk memberikan pencerahan kepada diri sendiri tentang perasaan yang berbeda-beda yang kita rasakan. Misalnya, “saya merasa marah dan kesal namun saya juga merasa bersalah tergadap apa yang telah saya lakukan,” dengan begitu kita dapat memahami apa yang diri kita inginkan sehingga kita dapat mengontrol emosi kita.
- In expressing felings-inwardly or aoutwardly—try to anchor your emotions in the present. Mengekspresikan perasan yang kita rasakan terhadap diri kita sendiri dengan mencocokkan permasalahan diri yang sedang kita hadapi. Misalnya kita menerima dan mengekspresikan emosi dalam kita kita, “Saya merasa bodoh karena tidak bisa menghasilkan tulisan yang bagus hari ini,” pernyataan diatas merupakan ekpresi untuk menenangkan diri sendiri tentang emosi yang dirasakan.
- Own your feelings; take personal responsibility for your feelings. Berdasarkan kalimat-kalimat atau pernyataan-pernyataan “You make me angry”, “You make feel like a loser.” “You make me feel stupid.” Dari pernyatan tersebut, kita menyalahkan orang lain karena apa yang kita rasakan.
- Ask for what you want.
Mengatasi kemarahan
Kemarahan merupakan emosi yang bisa menciptakan masalah jika tidak ditata secara baik. Namun kemarahan juga bukan merupakan sesuatu yang selalu buruk. Kematahan membantu kita untuk melindungi diri kita, mendorong kita untuk berselisih atau sebaliknya. Lemarahan tidak selalu membangun sesuatu yang baik, karena beberapa waktu kemarahan justru membimbing kita untuk mencapai suatu tujuan yang bukanlah objektif melainkan suatu obsesi.
Mengolah kemarahan : SCREAM Before You Scream.
Yang perlu disadari dalam mengolah atau mengatur emosi kemarahan yang kita rasakan dibutuhkan beberapa hal berikut :
1. Self. Seberapa penting emosi yang kita rasakan terhadap diri sendiri sehingga membuat kita untuk dapat memutuskan seperti apa perasaan yang kita inginkan. Apakah apa yang kita rasakan merupakan sesuatu yang berharga atau tidak sehingga kita harus memahami tindakan seperti apa yang akan kita ambil ketika emosi itu muncul.
2. Context. Menentukan tempat dan waktu yang tepat untuk mengekspresikan rasa marah yang kita rasakan sehngga kita dapat memahami lingkungan sekitar. “Apakah tepat rasanya jika kita menumpahkan amarah kita disini?” Pernyatan tersebut membantu kita untuk dapat bersikap kondusif sehungga apa yang kita lakukan merupakan sesuatu yang benar, meskipun pada dasarnya kemarahan bukanlah hal yang harus dilakukan.
3. Receiver. Seseorang yang menjadi tempat kita untuk mengekspresikan emosi kita. Misalnya, kita menunjukkan emosi dedecewaan kita kepada sahabta kita karena merasa kesal terhadapa sikap pimpinan yang membuat kita kesal.
4. Effect. Akibat seperi apa yang dapat mucnul jika kita menunjukkan ekpresi kemarahan kita. Apakah kita menunjukkan emosi kita intuk menyakiti orang lain? Bagaimana kita mempertimbangkan sikap kita terhadap kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi apabila kita mengutarakan emosi yang kita rasakan.
5. Aftermath (long-range). Apa yang akan terjadi akibat ekspresi kemarahan yang kita tunjukan, seberapa besar pengaruhnya terhadap hubungan kita dengan orang lain, dengan rekan-rekan satu kantor dan sebagainya.
6. Messages. Bagaimana sebuah ekpresi yang telah tunjukan kepada orang lain tentang kemarahan kita dapat memberikan akibat dan apakah pesan yang kita sampaikan berguna. Tentang apa yang kita rasakan, ketidakpuasan kerja misalnya. Hal-hal ini membawa kita kepada anger communication.
Anger Communication
Anger communication bukanlah cara untuk menunjukkan kemarahan kita, melainkan bagaimana menunjukkan emosi kita secara tenang dan terkendali.
1. Get ready to communicate calmy and logically.
2. Examine your communication choices.
3. Consider the advantages of delaying the expression of anger.
4. Remember that different cultures gave different display rules.
5. App;y rhe relevant skills of interpersonal communication.
6. Recall the irreversibility of communication.
Dengan menunjukkan anger communication, kita mampu mempertimbangkan hal-hal yang mungkin saja terjadi akibat emosi yang kita tunjuakn kepada orang lain. Akibat dari hal-hal itu bisa berupa sesuatu yang baik dan sebaliknya. Emosi yang kita tunjukan dapat mengandung dua makna yaitu positif dan negatif, karena orang-orang disekitar kita mungkin ada yang mau menerima kekecewaan kita namun juga ada yang merasa bahwa yang kita rasakan merupakan hal yang tidak masuk akal.
Dengan adanya kemampuan untuk mengolah emosi dalam diti kita, maka kita dapat berusaha untuk meminimalisir effect negatif yang bisa saja timbul.
Griefstricken
Dalam komunikasi antar pribadi ada hal-hal yang sulit dilakukan seperti memahami ekspresi orang lain, serta memahami emosi yang sedang terjadi. Hal-hal seperti ini dapat menumbuhkan ketidaksamaan persepsi sehingga kesulitan-kesulitan berkomunikasi menjadi sulit. Dengan memajami keadan emosi seseorang kita dapat menentukan cara yang efektif untuk berkomunikasi.
Seseorang yang memiliki perasaan berduka biasanya karena kematian atau kesedihan, kehilangan pekerjaan atau hubungan dengan orang lain dan sebagainya.
Apabila kita mendengar berita duka, atau luapan emosi dari seseorang yang menunjukkan kedukaan maka kita harus menunjukkan ekspresi simpati sebagai bentuk perhatian. Ada beberapa cara agar komunikasi kita dengan orang yang sedang berduka dapat berjalan dengan efektif.
- Merespon emosi yang ditunjukan seseorang dengan menyatakan apa yang mereka rasakan. Seperti, membiarkan orang tersebut merasakan kesedihannya.
- Memberikan keleluasaan bagi orang tersebut untuk merasakan kedukaannya sehingga dia merasa tenang dan merasa diperhatikan karena kita memahami perasaannya saat itu.
- Berusaha menunjukkan sesuatu yang lebih baik akibta kejadian tersebut. Dengan begitu kita mampu mengangkat semangat orang tesebut, seperti mengatakan “Ini lebih baik daripada...”
- Membiarkan orang yang sedang berduka mengekspresikan perasaan dan membiarkannya meluapkan emosinya. Namun, jangan memaksa orang tersebut untuk mebagi kesedihannya atau pengalaman yang tak ingin dia bagi. Hanya membiarkan dia menceritakan tanpa kita memintanya.
- Membiarkan orang itu tau bahwa kita peduli dan bersedia untuk dijadikan tempat bicara, seperti mengatakan “Jika ada yang perlu saya lakukan, saya akan membantu,”
Mary and Tom
Apa yang dirasakan oleh Mary and Tom adalah suatu keadaan yang tidka saling memahami selain adanya dua perbedaan yang sangat jelas antara kedua individu. Sikap Tom yang cenderung extrovert menyebabkan tekanan bagi Mary yang introvert, karena keduanya sama-sama tidak mengolah emosi mereka sehingga menyebabkan adanya pertentangan dan perbedaan persepsi diantara keduanya karena sama-sama mengintrepertasikan berbeda.
Tom berpikiran bahwa Mary enggan membagi kehidupannya padahal Mary sulit mengekspresikannya, hal tersebut dikarenakan keduanya tidak memiliki ketarmpilan untuk mengekspresikan emosi.
Skill of expressing emotions
- Memahami perasaan kita dan kenapa kita merasakan hal tersebut. Mary dan Tom seharusnya saling mengintropeksi diri sendiri mengenai apa yang mereka rasakan, mengapa mereka merasakan hal tersebut, sehingga keduanya dapat menyamakan persepsi. Seperti apakah ketidakpuasan dalam rumah tangga mereka yang tidak mereka bicarakan.
- Mencoba untuk memfokuskan pada emosi atau perasaan yang kita rasakan sehingga kita yakin untuk berekspresi seperti apa. Seperti memahami bagaimana akibat dari pesan yang kita sampaikan apabila emosi kita pecah. Pada Tom, dia tidak menyadari sikapnya yang terbuka dalam meluapkan emosinya justru membuat istrinya tertekan dan bukan sebaliknya yaitu membuka diri kepada Tom.
- Mengidentifikasi pilihan untuk berkomunikasi dan mengevaluasinya. Apakah cara berkomunikasi ini baik atau tidak dan bagaimana akibatnya.
- Mencoba untuk memikirkan alasan mengapa memiliki perasaan seperti ini, sehingga dapat memahami penyelesaian yang tepat dan bagimana mengkomunikasikannya sehianga permasalahan tersebut tidak menjadi bumerang. gudangtugasgembul.blogspot.com
10 racun psikologi Dalam Kehidupan
Racun pertama : Menghindar
Gejalanya, lari dari kenyataan, mengabaikan tanggung jawab, padahal dengan melarikan diri dari kenyataan kita hanya akan mendapatkan kebahagiaan semu yang berlangsung sesaat.
Antibodinya : Realitas
Cara : Berhentilah menipu diri. Jangan terlalu serius dalam menghadapi masalah karena rumah sakit jiwa sudah dipenuhi pasien yang selalu mengikuti kesedihannya dan merasa lingkungannya menjadi sumber frustasi. Jadi, selesaikan setiap masalah yang dihadapi secara tuntas dan yakinilah bahwa segala sesuatu yang terbaik selalu harus diupayakan dengan keras.
Racun kedua : Ketakutan
Gejalanya, tidak yakin diri, tegang, cemas yang antara lain bisa disebabkan kesulitan keuangan, konflik perkimpoian, problem seksual, dll...
Antibodinya : Keberanian
Cara : Hindari menjadi sosok yang bergantung pada kecemasan. Ingatlah 99 persen hal yang kita cemaskan tidak pernah terjadi. Keberanian adalah pertahanan diri paling ampuh. Gunakan analisis intelektual dan carilah solusi masalah melalui sikap mental yang benar. Keberanian merupakan proses reedukasi. Jadi, jangan segan mencari bantuan dari ahlinya, seperti psikiater atau psikolog.
Racun ketiga : Egoistis
Nyinyir, materialistis, agresif, lebih suka meminta daripada memberi.
Antibodinya : Bersikap sosial
Cara : Jangan mengeksploitasi teman. Kebahagiaan akan diperoleh apabila kita dapat menolong orang lain. Perlu diketahui, orang yang tidak mengharapkan apapun dari orang lain adalah orang yang tidak pernah merasa dikecewakan.
Racun keempat : Stagnasi
Gejalanya berhenti satu fase, membuat diri kita merasa jenuh, bosan, dan tidak bahagia.
Antibodinya : Ambisi
Cara : Teruslah berkembang, artinya kita terus berambisi di masa depan kita. Kita kan menemukan kebahagiaan dalam gairah saat meraih ambisi kita tersebut.
Racun kelima : Rasa rendah diri
Gejala : Kehilangan keyakinan diri dan kepercayaan diri serta merasa tidak memiliki kemampuan bersaing.
Antibodinya : Keyakinan diri
Cara : Seseorang tidak akan menang bila sebelum berperang, yakin dirinya akan kalah. Bila kita yakin akan kemampuan kita, sebenarnya kita sudah mendapatkan separuh dari target yang ingin kita raih.. Jadi, sukses berawal pada saat kita yakin bahwa kita mampu mencapainya.
Racun keenam : Narsistik
Gejala : Kompleks superioritas, terlampau sombong, kebanggaan diri palsu.
Antibodinya : Rendah hati
Cara : Orang yang sombong akan dengan mudah kehilangan teman, karena tanpa kehadiran teman, kita tidak akan bahagia. Hindari sikap sok tahu. Dengan rendah hati, kita akan dengan sendirinya mau mendengar orang lain sehingga peluang 50 persen sukses sudah kita raih.
Racun ketujuh : Mengasihani diri
Gejala : Kebiasaan menarik perhatian, suasana yang dominan, murung, menghunjam diri, merasa menjadi orang termalang di dunia.
Antibodinya : Sublimasi
Cara : Jangan membuat diri menjadi neurotik, terpaku pada diri sendiri. Lupakan masalah diri dan hindari untuk berperilaku sentimentil dan terobsesi terhadap ketergantungan kepada orang lain..
Racun kedelapan : Sikap bermalas-malasan
Gejala : Apatis, jenuh berlanjut, melamun, dan menghabiskan waktu dengan cara tidak produktif, merasa kesepian.
Antibodinya : Kerja
Cara : Buatlah diri kita untuk selalu mengikuti jadwal kerja yang sudah kita rencanakan sebelumnya dengan cara aktif bekerja. Hindari kecenderungan untuk membuat keberadaaan kita menjadi tidak berarti dan mengeluh tanpa henti.
Racun kesembilan : Sikap tidak toleran
Gejala : Pikiran picik, kebencian rasial yang picik, angkuh, antagonisme terhadap agama tertentu, prasangka religius.
Antibodinya : Kontrol diri
Cara : Tenangkan emosi kita melalui seni mengontrol diri. Amati mereka secara intelektual. Tingkatkan kadar toleransi kita. Ingat bahwa dunia diciptakan dan tercipta dari keberagaman kultur dan agama.
Racun kesepuluh : Kebencian
Gejala : Keinginan balas dendam, kejam, bengis.
Antibodinya : Cinta kasih
Cara : Hilangkan rasa benci. Belajar memaafkan dan melupakan.. Kebencian merupakan salah satu emosi negatif yang menjadi dasar dari rasa ketidakbahagiaan. Orang yang memiliki rasa benci biasanya juga membenci dirinya sendiri karena membenci orang lain. Satu-satunya yang dapat melenyapkan rasa benci adalah cinta. Cinta kasih merupakan kekuatan hakiki yang dapat dimiliki setiap orang.
Ketika kita sedang mengalami rasa depresi dan tidak bahagia, gunakan cara diatas sebagai sarana pertolongan pertama dalam kondisi mental gawat darurat demi terhindardari ketidakbahagiaan berlanjut pada masa mendatang !!! cafede.co.cc
Gejalanya, lari dari kenyataan, mengabaikan tanggung jawab, padahal dengan melarikan diri dari kenyataan kita hanya akan mendapatkan kebahagiaan semu yang berlangsung sesaat.
Antibodinya : Realitas
Cara : Berhentilah menipu diri. Jangan terlalu serius dalam menghadapi masalah karena rumah sakit jiwa sudah dipenuhi pasien yang selalu mengikuti kesedihannya dan merasa lingkungannya menjadi sumber frustasi. Jadi, selesaikan setiap masalah yang dihadapi secara tuntas dan yakinilah bahwa segala sesuatu yang terbaik selalu harus diupayakan dengan keras.
Racun kedua : Ketakutan
Gejalanya, tidak yakin diri, tegang, cemas yang antara lain bisa disebabkan kesulitan keuangan, konflik perkimpoian, problem seksual, dll...
Antibodinya : Keberanian
Cara : Hindari menjadi sosok yang bergantung pada kecemasan. Ingatlah 99 persen hal yang kita cemaskan tidak pernah terjadi. Keberanian adalah pertahanan diri paling ampuh. Gunakan analisis intelektual dan carilah solusi masalah melalui sikap mental yang benar. Keberanian merupakan proses reedukasi. Jadi, jangan segan mencari bantuan dari ahlinya, seperti psikiater atau psikolog.
Racun ketiga : Egoistis
Nyinyir, materialistis, agresif, lebih suka meminta daripada memberi.
Antibodinya : Bersikap sosial
Cara : Jangan mengeksploitasi teman. Kebahagiaan akan diperoleh apabila kita dapat menolong orang lain. Perlu diketahui, orang yang tidak mengharapkan apapun dari orang lain adalah orang yang tidak pernah merasa dikecewakan.
Racun keempat : Stagnasi
Gejalanya berhenti satu fase, membuat diri kita merasa jenuh, bosan, dan tidak bahagia.
Antibodinya : Ambisi
Cara : Teruslah berkembang, artinya kita terus berambisi di masa depan kita. Kita kan menemukan kebahagiaan dalam gairah saat meraih ambisi kita tersebut.
Racun kelima : Rasa rendah diri
Gejala : Kehilangan keyakinan diri dan kepercayaan diri serta merasa tidak memiliki kemampuan bersaing.
Antibodinya : Keyakinan diri
Cara : Seseorang tidak akan menang bila sebelum berperang, yakin dirinya akan kalah. Bila kita yakin akan kemampuan kita, sebenarnya kita sudah mendapatkan separuh dari target yang ingin kita raih.. Jadi, sukses berawal pada saat kita yakin bahwa kita mampu mencapainya.
Racun keenam : Narsistik
Gejala : Kompleks superioritas, terlampau sombong, kebanggaan diri palsu.
Antibodinya : Rendah hati
Cara : Orang yang sombong akan dengan mudah kehilangan teman, karena tanpa kehadiran teman, kita tidak akan bahagia. Hindari sikap sok tahu. Dengan rendah hati, kita akan dengan sendirinya mau mendengar orang lain sehingga peluang 50 persen sukses sudah kita raih.
Racun ketujuh : Mengasihani diri
Gejala : Kebiasaan menarik perhatian, suasana yang dominan, murung, menghunjam diri, merasa menjadi orang termalang di dunia.
Antibodinya : Sublimasi
Cara : Jangan membuat diri menjadi neurotik, terpaku pada diri sendiri. Lupakan masalah diri dan hindari untuk berperilaku sentimentil dan terobsesi terhadap ketergantungan kepada orang lain..
Racun kedelapan : Sikap bermalas-malasan
Gejala : Apatis, jenuh berlanjut, melamun, dan menghabiskan waktu dengan cara tidak produktif, merasa kesepian.
Antibodinya : Kerja
Cara : Buatlah diri kita untuk selalu mengikuti jadwal kerja yang sudah kita rencanakan sebelumnya dengan cara aktif bekerja. Hindari kecenderungan untuk membuat keberadaaan kita menjadi tidak berarti dan mengeluh tanpa henti.
Racun kesembilan : Sikap tidak toleran
Gejala : Pikiran picik, kebencian rasial yang picik, angkuh, antagonisme terhadap agama tertentu, prasangka religius.
Antibodinya : Kontrol diri
Cara : Tenangkan emosi kita melalui seni mengontrol diri. Amati mereka secara intelektual. Tingkatkan kadar toleransi kita. Ingat bahwa dunia diciptakan dan tercipta dari keberagaman kultur dan agama.
Racun kesepuluh : Kebencian
Gejala : Keinginan balas dendam, kejam, bengis.
Antibodinya : Cinta kasih
Cara : Hilangkan rasa benci. Belajar memaafkan dan melupakan.. Kebencian merupakan salah satu emosi negatif yang menjadi dasar dari rasa ketidakbahagiaan. Orang yang memiliki rasa benci biasanya juga membenci dirinya sendiri karena membenci orang lain. Satu-satunya yang dapat melenyapkan rasa benci adalah cinta. Cinta kasih merupakan kekuatan hakiki yang dapat dimiliki setiap orang.
Ketika kita sedang mengalami rasa depresi dan tidak bahagia, gunakan cara diatas sebagai sarana pertolongan pertama dalam kondisi mental gawat darurat demi terhindardari ketidakbahagiaan berlanjut pada masa mendatang !!! cafede.co.cc
Langganan:
Postingan (Atom)